Apa Kabar Rilisan Fisik?

Mungkin pertanyaan ini kadang atau bahkan sering lewat sepintas dalam kepala. Mengingat sekarang serba digital, apakah masih ada yang getol mengumpulkan rilisan fisik? Jawabannya jelas tentu saja masih ada. Banyak kolektor rilisan fisik berupa plat, cakram padat, dan kaset berseliweran di lini masa media sosial yang memperlihatkan koleksinya atau sekadar menunjukkan bahwa kolektor rilisan fisik tidak akan pernah punah. Akan tetapi, kita kembali ke judul dari artikel ini: Apa Kabar Rilisan Fisik sekarang?

Mari melihat data dari International Federation of the Phonographic Industry (IFPA) yang merupakan organisasi dengan kepentingan mewakili industri rekaman di seluruh dunia yang menunjukkan bahwa adanya penurunan pendapatan penjualan album fisik setiap tahun. Data yang lumayan ‘menyedihkan’ terdapat pada tahun 2020 yang memperlihatkan pendapatan dari penjualan CD turun sebanyak 11,9 persen. Sedangkan, pendapatan dari seluruh bentuk rilisan fisik hampir 5 persen menjadi Rp 5,8 triliun. Tahun yang sama, jumlah pendapatan dari jasa layanan streaming justru menunjukkan hal sebaliknya. Tumbuh nyaris sebanyak 20% menjadi Rp 190,9 triliun. Fantastis bukan?

Tapi tunggu dulu. Data tersebut merupakan gambaran umum tahun 2020 dimana kita ‘dipaksa’ dan terpaksa untuk hidup serba digital. Bagaimana data pada tahun 2021? Kalau dilihat laporan data akhir dari Billboard dan MRC, sepanjang tahun 2021 terjadi peningkatan penjualan rilisan dalam format plat atau vinyl hingga 41,7 juta sedangkan penjualan cakram padat atau CD terpantau sebanyak 40,6 juta. Mungkin beberapa dari kita mengait-ngaitkan dengan Record Store Day (RSD) yang terbilang rajin diselenggarakan. Saya sendiri sebenarnya berpikir bahwa RSD pun belum mampu mendongkrak angka penjualan rilisan fisik, toh di beberapa perayaan RSD jauh lebih banyak t-shirt dan aksesoris yang disuguhkan dibandingkan dengan plat, cakram padat, atau kaset. Setuju?

Mari melihat ke Makassar. Ada harapan bahwa rilisan fisik berada dalam kondisi yang baik-baik saja. Hal ini saya cepat simpulkan setelah (merangkum hasil) obrolan dengan beberapa pemilik dan penjaga record store. Semua mengakui bahwa terjadi regenerasi penikmat rilisan fisik, dan jumlahnya membanggakan bagi record store ini. Sebenarnya rilisan fisik di berbagai daerah di Indonesia akan terus berada dalam kondisi yang baik-baik saja. Kenapa bisa? jawabannya cukup klise; karena support. Ya, dukungan ini tidak terbatas hanya pada nominal rupiah semata. Ada banyak jalan menuju ke Roma, begitu pula dengan memberikan dukungan kepada setidaknya teman yang meluncurkan rilisan fisik atau membuka toko rilisan fisik.

Teks: Brandon Hilton.