Skip to content
ROCK IN CELEBES
ROCK IN CELEBES

Rocking The Scene Since 2010

  • Home
  • Journal
  • Events
  • Shop
    • Shopee
    • Tokopedia
    • Tickets
  • Survey

Metal Tidak Harus Akar-Akaran

Feature / By admin

Tulisan ini lahir karena pertanyaan yang sebenarnya sudah lama ada. Pertanyaan yang pada awalnya tidak penting untuk dijawab; Kenapa musik metal identik dengan tulisan akar-akar? Lama sekali pertanyaan tersebut diacuhkan, ia kemudian berubah wujud menjadi arwah penasaran yang akhirnya datang menghantui agar diselesaikan sesegera mungkin. Bagi para kepala besi ini mungkin agak sulit menjawab pertanyaan tersebut. Entahlah, karena mungkin akan terdengar begitu naif? Atau terkesan melebih-lebihkan? Tidak ada yang benar-benar tahu jawabannya. Selain identik dengan tulisan akar-akar yang sulit dibaca itu, musik metal juga erat dengan artwork yang menyeramkan. Kalau tidak begitu menyeramkan, yaa minimal memiliki gambar tengkorak atau gambar yang memancarkan kesan dark.

Saking mengerikannya, sampai-sampai ada kasus yang mengasosiasikan metalhead (dengan segala macam atribut dan kaosnya tentu saja) adalah pengikut ajaran atau sekte sesat. HAHAHAHA! Tapi, apa daya, musik keras dan artwork seram ini sudah ada sejak lama.

Katakan saja seniman seperti Joe Petagno. Kurang familiar? Bagaimana kalau ‘Snaggletooth’ milik Motörhead? Sudah tahu? Joe Petagno adalah orang yang membuat logo yang begitu iconic untuk album Lemmy dkk, kemudian ia juga mendesain hampir semua sampul album Motörhead. Tidak ketinggalan, seniman kelahiran 1 Januari 1948 ini turut menciptakan gambar untuk band seperti Marduk, Nightshade, dan Illdisposed. Kemudian ada nama Derek Riggs yang bekerja dengan Iron Maiden dengan karakter ciptaannya, Eddie, sepanjang 1980-an dan memasuki tahun 90-an. Selain itu, ada juga Ed Repka yang menciptakan Vic Rattlehead untuk Megadeth. Beberapa artwork pada album-album penting Megadeth dikerjakan oleh ilustrator asal negeri Paman Sam. Salah satu yang ia kerjakan adalah Holy Wars.

The Punishment Due dan Rust in Peace. Ed Repka juga adalah sosok yang bertanggung jawab akan sampul-sampul diskografi awal dari Death. Bisa dikatakan kalau musik metal ini tidak bisa dipisahkan dengan artwork yang “menyeramkan”. Kalau dipikir-pikir, nyaris semua band metal di berbagai belahan dunia ini sepakat bahwa musik keras yang dimainkan (cepat atau dengan tempo yang lambat) akan selalu cocok dengan artwork dan tulisan seperti itu.

Wajar saja, musik yang kebanyakan mengambil tema (biasanya seputar) kekerasan, kematian, dan hal-hal substansial dengan ritme gitar yang rendah (downtuned rhythm guitar), permainan dan atau perkusi yang cepat dengan intensitas yang cenderung dinamis, dan dilengkapi dengan vokal yang biasanya dinyanyikan dengan suara teriakan, geraman atau menggerutu. Istilah kerennya screaming, death grunt atau death growl.

Akan tetapi, kalau dipikirkan kembali apakah cocok musik keras tanpa tulisan berakar dan artwork yang menyeramkan? Jawabannya adalah ya tentu saja masih cocok. Mari lihat Deafheaven (album Sunbather) yang memiliki elemen music Black Metal, namun memilih warna cerah sebagai latarnya, juga tidak ada tulisan berakar yang terlihat. Ada juga August Burns Red yang selalu terkesan “sederhana” untuk urusan visual, tidak ketinggalan ada Destroy the Runner dengan semua visualnya yang berbanding terbalik dengan musiknya. Biasanya, musisi atau grup musik yang tidak menggunakan font berakar dan artwork menyeramkan justru menggunakan foto seperti band-band hardcore kebanyakan. Trail of Lies, Madball, dan Lionheart misalnya.

Semua kembali lagi ke pilihan musisi atau grup musik tersebut. Apakah ada yang sadar bahwa band yang tidak beraliran metal dan sejenisnya (biasanya pop punk modern) juga ada yang menggunakan font berakar? Tidak ketinggalan brand-brand clothing pun juga banyak yang memakai tulisan yang cenderung “sulit” dibaca demi kesan dark, menyeramkan, ikut trend, atau bahkan ikut sama selera owner (yang mungkin suka music berisik). Semua bebasa menggunakan font berakar. Tidak ada Batasan. Roots! Bloody Roots!

Teks: Brandon Hilton

Post navigation

← Previous Post
Next Post →

Categories

  • Announcement
  • Feature
  • News
  • Review

Recent Posts

  • ROCK IN CELEBES MERCHANDISE MAY DEALS 2026
  • PERTUNJUKAN SPESIAL
  • LEBIH DARI SEKADAR FESTIVAL MUSIK
  • ARAH BARU FESTIVAL MUSIK
  • ROCK IN CELEBES 2025 – INTANGIBLE HERITAGE

Archives

  • May 2026
  • October 2025
  • August 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • June 2024
  • December 2023
  • November 2023
  • October 2023
  • September 2023
  • August 2023
  • July 2023
  • June 2023
  • February 2023
  • January 2023
  • December 2022
  • November 2022
  • October 2022
  • September 2022
  • August 2022
  • May 2022
  • April 2022
  • March 2022
  • February 2022
  • January 2022
  • December 2021
  • November 2021
  • October 2021
  • September 2021
  • August 2021
  • July 2021
  • June 2021
  • May 2021
  • April 2021
  • March 2021
  • February 2021
  • January 2021
  • December 2020
  • November 2020
  • October 2020
  • September 2020
  • August 2020
  • June 2020
  • May 2020
  • April 2020
  • March 2020
  • December 2019
  • November 2019
  • October 2019
  • September 2019
  • July 2019
  • June 2019
  • March 2019
  • December 2018
  • November 2018
  • January 2018
  • November 2017
  • October 2017
  • September 2017
  • July 2017
  • June 2017
  • April 2017
  • December 2016
  • November 2016
  • October 2016
  • September 2016
  • August 2016
  • July 2016
  • June 2016
  • May 2016
  • April 2016
  • December 2015
  • November 2015
  • October 2015
  • September 2015
  • August 2015
Instagram | X | Facebook | TikTok | YouTube | Email: info@rockincelebes.com
Copyright © 2026 ROCK IN CELEBES