Bicara Sama Tembok

Satu atau dua bulan terakhir yang ramai jadi bahan perbincangan adalah ‘kebebasan’ berpendapat melalui tembok. Mural atau apalah Namanya. Seru juga melihat bagaimana reaksi netizen yang marah-marah karena melihat gambar-gambar di tembok ditiban kembali oleh aparat dan pihak yang berwenang karena mengandung unsur ‘provokasi’. Ada yang pro, juga ada yang kontra. Dalam pengamatan saya, lebih banyak yang kontra dengan aksi meniban kembali mural tersebut. Belum lagi, berita tentang seniman 404 yang sempat dicari-cari oleh pihak kepolisian, namun pada akhirnya diberhentikan karena tidak mengandung unsur pidana setelah diselidik.

Seru juga ya! Dari sini, kemudian muncul begitu banyak forum diskusi tentang bagaimana beberapa produk hukum memiliki pasal karet yang menjadi ancaman kebebasan berpendapat dan sebagainya. Tapi, bukannya memang semua termasuk menggambar di tempat yang diakses umum sudah punya peraturannya? Lagi pula, jika gambar dihapus artinya gambarmu direspon dan dianggap ada. Khawatir jika yang terjadi malah sebaliknya.

Saya adalah orang yang senang melihat gambar-gambar besar atau kecil di tembok-tembok pinggir jalan atau lorong-lorong dalam kota. Tidak bisa dipungkiri, beberapa dari kita pun demikian. Kenapa? Karena dari situ, kita paham bagaimana orang-orang merespon keadaan, atau paling tidak, kita dibuat menjadi saksi akan bakat yang disalurkan (terlepas gambar yang dibuat itu bagus atau sebaliknya). Berbicara tentang merespon keadaan, pelaku seni visual sempat dilibatkan dalam Rock in Celebes 2019. Sudah bisa dilihat bagaimana teman-teman seniman mural yang terlibat punya bakat yang tidak main-main. Kalau penasaran, sila cari sendiri bagaimana Rock in Celebes 2019 direspon oleh mereka yang mahir dalam bidang gambar-menggambar.

Tembok Itu Gratis!

Karena didorong oleh rasa ingin tahu sedikit lebih dalam tentang bagaimana dinamika di dalam dunia mural, awalnya saya bertemu dengan Metz (vokalis Hardcore, rapper, dan juga seniman visual) kemudian berjumpa dengan 8501 (sosok seniman visual yang karyanya nyaris selalu ada di setiap tembok Kota Makassar). Dari bicara hal basa-basi, kemudian makin serius setelah teringat portfolio 8501 yang mantap jiwa seperti kolaborasinya bersama unit Hardcore Front to Fight dan merek clothingan seperti Vicious Pain. Seperti biasa, tembok menjadi medianya.

“Begini. Menurutku nah, selain media sosial, ada cara yang lebih unik untuk menyampaikan campaign atau mau sekadar berpromo. Tembok. Banyak sekali tembok yang bisa dipakai sebagai media dan itu gratis. Tinggal bagaimana bermain sama waktu saja. Intinya kalau malas gerak yaa jangan harap bakalan jadi.” Ujar 8501.

“Kalau ditanya kenapa mau? Jawabannya kenapa tidak. Baik Front to Fight atau Vicious Pain itu orang-orangnya dikenal dan sepemikiran. Lagian, daripada ceritai orang lain, lebih baik terus saja menggambar,” tambahnya.

Walau bukan hal yang baru, apa yang dilakukan 8501 ini adalah cerdas. Selain itu, bisa dibilang, seniman yang satu ini ‘terlalu baik hati’. Saya percaya, cakupan sosial media itu ada batasnya, sedangkan tembok, batasannya lebih luas dari sosial media.

404. Side Stream?

Kemudian kami kedatangan satu orang lagi yang tidak ingin disebut namanya, tapi katakanlah dia ‘A’. Pembicaraan kami mengalir jauh setelah saya melontar pertanyaan ‘apa kabar teman-teman seni visual’? “Maksudnya apa kabar? Jelas sedang tidak baik-baik saja. Kalau ada seniman yang memandang situasi di sekitarnya aman-aman saja malah bahaya. Bisa jadi dia mandul. Alarmnya mati jadinya tidak peka. Sedangkan seniman itu manusia paling peka.” Ujar ‘A’.

Makin penasaran, apakah kondisi tersebut karena karena kasus 404 kemarin atau ada hal lain. “Bukan. Bukan karena 404. Biasa ji itu. Gambar ditiban kembali sama pihak berwenang itu sudah lazim. Yang tidak lazim itu baper kalau gambarmu ditiban.” Kata 8501.

“Kalau saya, sebenarnya yang bikin tidak baik-baik saja itu faktor lupa. Tidak semua ya, tapi kebanyakan yang saya temui rata-rata lupa atau mungkin sengaja lupa tempat dari mana mereka lahir? Tidak tahu juga.” Tambahnya.

“Kalau mau dibilang, ada jugalah sedikit kontribusinya ini 404 kemarin. Karena kasus itu, banyak kan yang bikin forum bahas soal kebebasan apalah namanya itu. Dari situ kelihatan siapa yang mulutnya underground mengaku side stream tapi giliran ada spotlight malah saling berebut dan banyak bicara. Padahal ada namanya hak diam yang bisa dipakai. Sharing-sharing jelas baik, tapi lebih baik terus berprogres daripada kebanyakan bicara.” Ungkap ‘A’. “Tapi sudah mi lah. Semua orang punya caranya buat survive. Kalau dilihat sekarang, ‘panggung’ lagi diberikan ke dunia seni visual secara menyeluruh, kelihatan ji siapa yang mau sekali tampil.” Tambahnya.

Seru! Semoga saja dalam dua atau tiga tahun kedepan, tembok-tembok masih relevan untuk diajak berbicara.

Teks: Brandon Hilton